Minggu, 05 April 2015

TGS1_SistemBasisData_PandePutuWidianaWD_14101550_J



Sistem Informasi dalam Bidang Geologi

sistem  informasi  yang  secara  terintegrasi  mampu  mengolah  baik  data  spasial

maupun data  atribut ini  secara efektif dan  efisien. Tidak itu  saja, sistem inipun

harus  mampu  menjawab  dengan  baik  pertanyaan  spasial  maupun  atribut  secara

simultan. Dengan demikian, diharapkan keberadaan suatu sistem informasi yang

efisien dan  mampu  mengelola data  dengan struktur  yang  kompleks dan dengan

jumlah  yang  besar  ini  dapat  membantu  dalam  proses  pengambilan  keputusan

yang tepat. Salah satu sistem yang menawarkan solusi-solusi untuk masalah ini

adalah Sistem Informasi Geografis (SIG).

Secara  umum,  terdapat  dua  jenis  data  yang  dapat  digunaka n  untuk

merepresentasikan  atau  memodelkan  fenomena-fenomena  yang  terdapat  di

dunia nyata. Yang pertama adalah jenis data yang merepresentasikan aspek aspek  keruangan  dari  fenomena  yang  bersangkutan.  Jenis  data  ini  sering

disebut  sebagai  data-data  posisi,  koordinat,  ruang,  atau  spasial.  Sedangkan

yang kedua adalah jenis data yang mereprensentasikan aspek-aspek deskriptif

dari  fenomena  yang  dimodelkannya.  Aspek  deskriptif  ini  mencakup  items

atau  properties  dari fenomena yang bersangkutan hingga dimensi waktunya.

Jenis data ini sering disebut sebagai data atribut atau data non -spasial (Eddy

Prahasta, 2002)

Data-data  yang  begitu  banyak  untuk  merepresentasikan  atau

memodelkan  fenomena-fenomena  yang  terdapat  di  dunia  nyata  seringkali

membuat kita kesulitan dalam mengarsipkannya, karena data-data tersebut masih

terpisah  satu  dengan  yang  lainnya.  Dengan  Sistem  Informasi  Geografis  (SIG),

kita  dapat  mengarsipkan  (penyimpanan)  semua  data-data  yang  penting  dalam

suatu  sistem  informasi  dan  kita  juga  dapat  mengelola,  memproses  atau

memanipulasi,  menganalisis,  serta  menampilkan  kembali  data-data  tersebut.

Untuk  dapat  mengoperasikan  sistem  ini  dibutuhkan  perangkat  keras  dan

perangkat lunak. Perangkat lunak dalam hal  ini adalah program  komputer  yang

sesuai  untuk  tujuan  tersebut  di  atas,  sedangkan  perangkat  keras  adalah  sistem

komputer  (Personal  Computer)  yang  sesuai  untuk  pengoperasian  perangkat

lunaknya.

Saat  ini  di  Indonesia,  SIG  (baik  perangkat  lunak,  perangkat  keras,

maupun  aplikasi-aplikasinya)  telah  dikenal  secara  luas  sebagai  alat  bantu

untuk  proses  pengambilan  keputusan.  Sebagian  besar  institusi  (pemerintah,

swasta, baik bidang akademis maupun non-akademis) maupun individu yang

memerlukan  informasi  yang  berbasiskan  data  spasial  telah  mengenal  dan

menggunakan sistem ini.  Beberapa contoh aplikasi-aplikasi SIG di beberapa

bidang  sebagai  ilustrasi  (Edy  Prahasta,  2002)  seperti  di  sumberdaya  alam,

perencanaan,  kependudukan  atau  demografi,  lingkungan.  manajemen  utility,

pertanahan,  pariwisata, militer,  geologi,  pertambangan,  transportasi, dan lainlain.

Sistem  Informasi  Geografis  (SIG)  untuk  merepresentasikan  dan

memodelkan  data-data  yang  terdapat  di  Daerah  Istimewa  Yogyakarta

yakni  berupa  data-data  batas  administrasi,  data-data  tanah,  data-data

geologi,  data-data  landuse  (penggunaan  lahan),  data-data  kemiringan

lereng,  dan  data-data  Daerah  Aliran  Sungai  (DAS)  di  Jawa  Tengah.

Perangkat lunak yang digunakan dalam Sistem Informasi Geografis (SIG)

sudah  tersedia,  seperti  MapInfo,  ArcInfo,  ArcView  dan  ArcGIS,

AutocadMap,  AutoDesk,  dan  lain-lain.  Dalam  hal  ini,  penyusun

memanfaatkan perangkat lunak  ArcView  GIS 3.2 dalam mengaplikasikan

Sistem  Informasi  Geografis  (SIG)  untuk  merepresentasikan  data-data

spasial  maupun  data-data  atribut  yang  terdapat  di  Daerah  Istimewa

Yogyakarta – Jawa Tengah.



A.  Definisi Sistem Informasi Geografis (SIG)

Definisi  Sistem  Informasi  Geografis  (SIG)  selalu  berkembang,

bertambah, dan bervariasi. SIG juga merupakan suatu bidang kajian ilmu

dan  teknologi yang relatif  baru,  digunakan  oleh  berbagai bidang  disiplin

ilmu,  dan  berkembang  dengan  cepat.  SIG  adalah  sistem  komputer  yang

digunakan  untuk  memasukkan  (capturing),  menyimpan,  memeriksa,

mengintegrasikan,  memanipulasi,  menganalisa,  dan  menampilkan  datadata yang berhubungan dengan posisi-posisi di permukaan bumi.

SIG  dapat  didefinisikan  sebagai  kombinasi  perangkat  keras  dan

perangkat  lunak  komputer  yang  memungkinkan  untuk  mengelola

(manage),  menganalisa,  memetakan  informasi  spasial  berikut  data

atributnya (data deskriptif) dengan akurasi kartografi (Basic, 2000 dalam

Eddy Prahasta, 2002).  Dari definisi ini dapat diuraikan menjadi beberapa

subsistem  yaitu  data  input,  dasa  otput,  data  manajemen,  dan  data

manipulasi dan analisis.

B.  Cara Kerja SIG

SIG  dapat  merepresentasikan  realworld  (dunia  nyata)  di  atas  monitor

komputer  sebagaimana  lembaran  peta  dapat  merepresentasikan  dunia  nyata  di

atas  kertas.  Namun  SIG  memiliki  kekuatan  lebih  dan  fleksibilitas  dari  pada

lembaran peta kertas. Peta merupakan representasi grafis dari dunia nyata, objek objek  yang  direpresentasikan  di  atas  peta  disebut  unsur  peta  atau  map  features

(contohnya  adalah  sungai,  kebun,  jalan,  dan  lain-lain).  Karena  peta

mengorganisasikan  unsur-unsur  berdasarkan  lokasi-lokasinya,  peta  sangat  baik

dalam memperlihatkan hubungan atau relasi yang dimiliki oleh unsur-unsurnya.

SIG  menyimpan  semua  informasi  deskriptif  unsur-unsurnya  sebagai

atribut-atribut di dalam basisdata. Kemudian SIG membentuk dan menyimpannya

di dalam tabel-tabel (relasional). Setelah itu, SIG menghubungkan unsur-unsur di

atas dengan tabel-tabel  yang  bersangkutan. Dengan demikian, atribut-atribut ini

dapat diakses melalui lokasi-lokasi unsur-unsur peta, dan sebaliknya unsur-unsur

peta  juga  dapat  diakses  melalui  atribut-atributnya.  Karena  itu,  unsur-unsur

tersebut dapat dicari dan ditemukan berdasarkan atribut-atributnya.

SIG  menghubungkan  sekumpulan  unsur-unsur  peta  dengan  atributatributnya di dalam satuan-satuan yang disebut layer. Contoh-contoh layer seperti

bangunan,  sungai,  jalan,  batas-batas  administrasi,  perkebunan,  dan  hutan.

Kumpulan-kumpulan  dari  layer-layer  ini  akan  membentuk  basisdata  SIG.

Dengan demikian, perancangan basisdata merupakan hal yang  esensial  di dalam

SIG. rancangan basisdata akan menentukan efektifitas dan efisiensi proses-proses

masukan, pengelolaan, dan keluaran SIG (Eddy Prahasta, 2002).


1. Tujuan dan peranan SI
a. Meningkatkan pengintegrasian organisasi

Banyak organisasi yang sudah mengimplementasi SIG menemukan kenyataan, bahwa keuntungan utama yang mereka dapatkan adalah peningkatan kinerja manajemen terhadap organisasi maupun pengelolaan sumberdayanya. hal itu terjadi karena SIG memiliki kemampuan untuk menghubungkan berbagai perangkat data secara bersamaan berdasarkan geografis, memfasilitasi informasi-informasi yang terjadi antar bagian, untuk saling termanfaatkan dan dikomunikasikan.

Dengan membuat sebuah database yang bisa dimanfaatkan bersama, maka sebuah bagian akan memperoleh keuntungan dari hasil kerja dari bagian lain, di mana akan berlaku ketentuan, bahwa data cukup sekali dikoleksi, tetapi bisa dimanfaatkan berkali-kali.

b. Membuat keputusan-keputusan lebih sempurna

SIG bukan sebuah sistem yang mampu membuat keputusan secara otomatis. SIG hanya sebuah sarana untuk pengambilan data, menganalisanya, dari kumpulan data berbasis pemetaan untuk mendukung proses pengambilan keputusan.

Teknologi SIG banyak digunakan untuk membantu berbagai kegiatan pekerjaan seperti penyajian informasi pada saat pembuatan perencanaan, membantu memecahkan masalah yang berkaitan dengan kekacauan teritorial.

SIG juga bisa digunakan untuk membantu meraih keputusan mengenai lokasi perumahan baru yang memiliki sesedikit mungkin pengaruh lingkungan, berada di lokasi yang memiliki resiko paling sedikit, dan berada dekat dengan pusat kegiatan kependudukan.

Informasi bisa disajikan secara ringkas dan jelas berupa gambar peta, yang dilampiri dengan laporan, memungkinkan para pemgambil keputusan untuk memusatkan perhatiannya pada masalah-masalah nyata dibanding dengan upaya memahami data. Karena produk SIG bisa dibuat secepatnya, dengan berbagai skenario, untuk kemudian dievaluasi secara efektif dan efisien.

c. Membantu membuat peta

Peta merupakan kunci pada SIG. Proses untuk membuat (menggambar) peta dengan SIG jauh lebih fleksibel, bahkan dibanding dengan menggambar peta secara manual, atau dengan pendekatan kartografi yang serba otomatis.

Dimulai dengan membuat database. gambar peta yang sudah ada bisa digambar dengan digitizer, dan informasi tertentu kemudian bisa diterjemahkan ke dalam SIG. Database kartografi berbasis SIG dapat bersambungan dan bebas skala.

Peta-peta kemudian bisa diciptakan terpusat di berbagai lokasi, dengan sembarang skala, dan menunjukkan informasi terpilih, yang mencerminkan secara efektif untuk menjelaskan suatu karakteristik khusus.

Sifat-sifat sebuah atlas dan serangkaian peta dapat direkam pada program komputer, dan dibandingkan terhadap database pada akhir proses produksi. Produk digital digunakan untuk SIG yang lain bisa dilakukan dengan sederhana, hanya dengan membuat salinan data dari database. Pada organisasi yang besar, database topografi bisa dimanfaatkan untuk kerangka referensi oleh bagian yang lain.

2. Bentuk Data yang Diolah
Tahapan kerja SIG meliputi tiga hal utama, yaitu masukan (input), proses, dan keluaran (output). Perhatikan Bagan 3.4.

1. Data Masukan (Input Data)

Tahapan kerja SIG yang pertama adalah data masukan, yaitu suatu tahapan pada SIG yang dapat digunakan untuk memasukkan dan mengubah data asli ke dalam bentuk yang dapat diterima oleh komputer. Data-data yang masuk tersebut membentuk database (data dasar) di dalam komputer yang dapat disimpan dan dipanggil kembali untuk dipergunakan atau untuk pengolahan selanjutnya. Tahapan kerja masukan data meliputi pengumpulan data dari berbagai sumber data dan proses pemasukan data.

a. Sumber Data

Data dasar yang dimasukkan dalam SIG diperoleh dari empat sumber, yaitu data lapangan (teristris), data peta, data pengindraan jauh, dan data statistik.

1) Data pengindraan jauh (remote sensing) adalah data dalam bentuk citra dan foto udara atau nonfoto.

Citra adalah gambar permukaan bumi yang diambil melalui satelit. Foto udara adalah gambar permukaan bumi yang diambil melalui pesawat udara. Informasi yang terekam pada citra penginderaan jauh yang berupa foto udara atau diinterpretasi (ditafsirkan) terlebihi dahulu sebelum diubah ke dalam bentuk digital. Adapun citra yang diperoleh dari satelit yang sudah dalam bentuk digital langsung digunakan setelah diadakan koreksi seperlunya.

2) Data lapangan (teristris), yaitu data yang diperoleh secara langsung melalui hasil pengamatan di lapangan karena data ini tidak terekam dengan alat penginderaan jauh. Misalnya, batas administrasi, kepadatan penduduk, curah hujan, pH tanah, kemiringan lereng, suhu udara, kecepatan angin, dan gejala gunungapi.

3) Data peta (map), yaitu data yang telah terekam pada kertas atau film. Misalnya, peta geologi atau peta jenis tanah yang akan digunakan sebagai masukan dalam SIG, kemudian dikonversikan (diubah) ke dalam bentuk digital.

4) Data statistik (statistic), yaitu data hasil catatan statistik dalam bentuk tabel, laporan, survei lapangan, dan sensus penduduk. Data statistik diperoleh dari lembaga swasta atau instansi resmi peme rintah, seperti Biro Pusat Statistik (BPS). Data statistik merupakan data sekunder, yaitu data yang telah mengalami pengolahan lebih lanjut.

b. Proses Pemasukan Data


Proses pemasukan data ke dalam SIG diawali dengan mengumpulkan dan menyiapkan data spasial maupun data atribut dari berbagai sumber data, baik yang bersumber dari data lapangan, peta, penginderaan jauh, maupun data statistik.

Bentuk data yang akan dimasukkan dapat berupa tabel, peta, catatan statistik, laporan, citra satelit, foto udara, dan hasil survei atau pengukuran lapa ngan. Data tersebut diubah terlebih dahulu menjadi format data digital sehingga dapat diterima sebagai masukan data yang akan disimpan ke dalam SIG. Data yang masuk ke dalam SIG dinamakan database (data dasar atau basis data).



Dari digitasi peta dihasilkan layer peta tematik. Layer peta tematik adalah peta yang digambar pada sesuatu yang bersifat tembus pandang, seperti plastik transparan.

Berbagai fenomena di permukaan bumi dapat dipetakan ke dalam beberapa layer peta tematik, dengan setiap layernya merupakan representasi kumpulan benda (feature) yang memiliki kesamaan. Misalnya, layer jalan, kemiringan lereng, daerah aliran sungai, tata guna lahan, dan jenis tanah. Layer-layer ini kemudian disatukan dan disesuaikan urutan maupun skalanya. Kemampuan ini memungkinkan seseorang untuk mencari di mana letak suatu daerah, objek, atau hal lainnya di permukaan bumi. Fungsi ini dapat digunakan, seperti untuk mencari lokasi rumah, mencari rute jalan, dan mencari tempat-tempat penting yang ada di peta. Pengguna SIG dapat pula melihat pola-pola yang mungkin akan muncul dengan melihat penyebaran letak feature, seperti sekolah, sungai, jembatan, dan daerah pertambangan.



Teknik pemasukan data ke dalam SIG dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut.

1) Digitasi data-data spasial, seperti peta dengan menggunakan digitizer.

2) Scaning data-data spasial dan atribut dengan menggunakan scanner.

3) Modifikasi data terutama data atribut.

4) Mentransfer data-data digital, seperti citra satelit secara langsung.

2. Manipulasi dan Analisis Data

Tahapan manipulasi dan analisis data adalah tahapan dalam SIG yang berfungsi menyimpan, menimbun, menarik kembali, memanipulasi, dan menganalisis data yang telah tersimpan dalam komputer. Beberapa macam analisis data, antara lain sebagai berikut.

a) Analisis lebar, yaitu analisis yang dapat menghasilkan gambaran daerah tepian sungai dengan lebar tertentu. Kegunaannya antara lain untuk perencanaan pembangunan jembatan dan bendungan, seperti bendungan Jatiluhur, Saguling, dan Cirata yang mem bendung Citarum.

b) Analisis penjumlahan aritmatika, yaitu analisis yang dapat menghasilkan peta dengan klasifikasi baru. Kegunaannya antara lain untuk perencanaan wilayah, seperti wilayah permukiman, industri, konservasi, dan pertanian.

c) Analisis garis dan bidang, yaitu analisis yang digunakan untuk menentukan wilayah dalam radius tertentu. Kegunaannya antara lain untuk menentukan daerah rawan bencana, seperti daerah rawan banjir, daerah rawan gempa, dan daerah rawan gunungapi.

3. Keluaran Data

Tahapan keluaran data, yaitu tahapan dalam SIG yang berfungsi menyajikan atau menampilkan hasil akhir dari proses SIG dalam bentuk peta, grafik, tabel, laporan, dan bentuk informasi digital lainnya yang diperlu kan untuk perencanaan, analisis, dan penentuan kebijakan terhadap suatu objek geografis. Misalnya, untuk mendukung pengambilan keputusan dalam perencanaan dan pengelolaan penggunaan lahan (land use), sumber daya alam, lingkungan, transportasi, fasilitas kota, dan pelayanan umum lainnya. Kemampuan inilah yang membedakan SIG dengan sistem informasi lainnya yang membuatnya menjadi berguna untuk berbagai kalangan dalam menjelaskan kejadian, merencanakan strategi, dan memprediksi apa yang akan terjadi.

Manfaat dari informasi yang dihasilkan
1. Manajemen Tata Guna Lahan
Pemanfaatan dan pembangunan lahan yang dimiliki oleh pemerintah daerah perlu dilakukan dengan penuh pertimbangan dari berbagai aspek. Misalnya, wilayah pembangunan di kota biasanya dibagi menjadi daerah permukiman, industri, perdagangan, perkantoran, fasilitas umum, dan jalur hijau. SIG dapat membantu pembuatan perencanaan setiap wilayah tersebut dan hasilnya dapat digunakan sebagai acuan untuk pembangunan fasilitas-fasilitas yang diperlukan.
Lokasi dari fasilitas-fasilitas yang akan dibangun di daerah perkotaan (urban) perlu dipertimbangkan agar efektif dan tidak melanggar kriteriakriteria tertentu yang bisa menyebabkan ketidakselarasan. Contohnya, pembangunan tempat penampungan sampah. Kriteria-kriteria yang bisa dijadikan parameter antara lain diluar area permukiman, berada dalam radius 10 meter dari genangan air, berjarak 5 meter dari jalan raya, dan kriteria-kriteria lainnya. Dengan kemampuan SIG yang bisa memetakan apa yang ada di luar dan di dalam suatu area, kriteria-kriteria ini dapat digabungkan sehingga memunculkan irisan daerah yang tidak sesuai, agak sesuai, dan sangat sesuai dengan seluruh kriteria. Contoh lain, seperti pembangunan lokasi pabrik, pasar, fasilitasfasilitas umum, lokasi jaringan-jaringan listrik, telepon, dan air. Setelah lokasi yang sesuai didapatkan, desain pembangunan fasilitas tersebut dapat digabungkan dengan SIG untuk mendapatkan perspektif yang lebih riil.
Di daerah pedesaan (rural) manejemen tata guna lahan lebih banyak mengarah ke sektor pertanian. Dengan terpetakannya curah hujan, iklim, kondisi tanah, ketinggian, dan keadaan alam lainnya, akan membantu penentuan jenis tanaman, lokasi tanaman, pupuk yang dipakai, dan bagaimana proses pengolahan lahannya. Penentuan lokasi gudang dan pemasaran hasil pertanian juga dapat terbantu dengan memanfaatkan peta produksi pangan, penyebaran, dan konsentrasi konsumen, serta peta jaringan transportasi.
Sebelum aplikasi SIG digunakan untuk membantu pengambilan keputusan, tugas dari daerah terlebih dahulu memasukkan informasi sebanyak-banyaknya tentang kondisi dan potensi daerahnya. Data-data yang perlu disiapkan antara lain data peta dan data statistik daerah. Data peta dapat menggunakan data yang sudah ada, seperti dari Bako surtanal atau instansi lain. Jika data belum ada atau ingin membuat data yang lebih baru, daerah bisa membuat peta baru berdasarkan foto satelit atau foto udara. Adapun data statistik diambil dari sensus, survei, data daerah dalam angka, dan hasil pendataan lainnya.

2. Inventarisasi Sumber Daya Alam
Pembangunan fisik dan sosial di Indonesia terus-menerus mengalami peningkatan sesuai dengan meningkatnya jumlah penduduk dan berkembangnya kehidupan yang semakin kompleks. Perkembangan tersebut mendorong perlunya informasi yang terperinci tentang data sumber daya alam yang mungkin dapat dikembangkan. Data aneka sumber daya alam hasil penelitian dijadikan modal sebagai bahan baku untuk perencanaan pembangunan.
Secara sederhana manfaat SIG dalam inventarisasi sumber daya alam adalah sebagai berikut.
a. Untuk mengetahui persebaran berbagai sumber daya alam, seperti minyak Bumi, batu bara, emas, besi, dan barang tambang lainnya.
b. Untuk pengawasan daerah bencana alam, antara lain:
1) memantau luas wilayah bencana alam;
2) pencegahan terjadinya bencana alam di masa yang akan datang;
3) menyusun rencana-rencana pembangunan kembali daerah bencana.
c. Untuk mengetahui persebaran kawasan lahan, antara lain:
1) kawasan lahan potensial dan lahan kritis;
2) kawasan hutan yang masih baik dan hutan rusak;
3) kawasan lahan pertanian dan perkebunan;
4) pemanfaatan perubahan penggunaan lahan.
3. Bidang Sosial dan Budaya
Selain untuk inventarisasi sumber daya alam dan manajemen tata guna lahan, SIG juga dapat dimanfaatkan dalam bidang sosial dan budaya, antara lain sebagai berikut.
a. Mengetahui potensi dan persebaran penduduk.
b. Mengetahui luas dan persebaran lahan pertanian serta kemungkinan pola drainasenya.
c. Untuk pendataan dan pengembangan jaringan transportasi.
d. Untuk pendataan dan pengembangan pusat-pusat pertumbuhan dan pembangunan.
e. Untuk pendataan dan pengembangan permukiman penduduk, kawasan industri, sekolah, rumah sakit, sarana hiburan dan rekreasi, serta perkantoran.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar